Road Trip Madura 2012

3 Jan 2013

Detik berganti detik. Menit demi menit berlalu berganti jam. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan akhirnya tanpa terasa tahun pun berganti. 2012 telah berlalu, meninggalkan berjuta kisah dan kenangan. Coretan-coretan cerita yang kualami di sepanjang perjalanan selama tahun 2012 yang baru berlalu, berikut beberapa frame foto hasil bidikan dari sepasang mata minusku hampir semuanya sudah kutuangkan di blog ini, sebagai sebuah dokumentasi sekaligus sarana berbagi.


Dan kisah perjalananku menyusuri jengkal demi jengkal bumi Allah di tahun 2012 ini diakhiri dengan cerita penjelajahanku di pulau garam madura yang kuberi tajuk Road Trip Madura 2012. Ini adalah ceritaku bersama dua orang sahabat, rekan sekaligus my partner in crime sehari-hari di kantor kala melancong ke Madura pada liburan panjang natal yang lalu, tepatnya hari sabtu, tanggal 22 Desember yang lalu.


Sebenarnya terlalu hiperbolis tajuk yang kusematkan untuk perjalanan ini. Tokh perjalanan kami bertiga hanya menyusuri sebagian kecil dari pulau madura, tepatnya di pesisir barat. Tapi tak apalah, dengan judul yang wah seperti ini, ada sebuah cita-cita dari kami, pada suatu hari nanti kami akan melanjutkan perjalanan ini hingga ke timur madura.

Perjalanan ini sebenarnya bukan perjalanan yang direncanakan. Semuanya berawal dari keinginan Den Aris dan Kang Adit untuk touring karena mereka berdua tidak pulang kampung di liburan panjang natal tahun 2012 ini. Kebetulan pula, aku memang tidak ada rencana liburan. Aku lalu menyarankan untuk road trip naik motor jelajah pulau madura dengan tujuan mengunjungi mercusuar sembilangan yang terletak di Kecamatan Socah, Madura. Terus terang, sudah sejak lama aku ingin berkunjung ke salah satu mercusuar peninggalan kolonial Belanda itu. Gayung bersambut, mereka pun setuju. Selain itu sudah lama, aku tidak melakukan road trip. Terakhir aku melakukannya kala ke trowulan setahun yang lalu.


Hari itupun tiba. Rencana awal, kami akan memulai perjalanan jam 8 pagi dari meeting point, Galaxy Mall Surabaya. Hal ini mengingat kondisi cuaca di kota Surabaya yang sering diguyur hujan di bulan Desember ini, terutama di siang dan sore hari. Tapi semuanya meleset dan rencana pun tinggal rencana. Jadwal keberangkatan pun delay, seperti kala akan naik pesawat, menjadi jam 10.30. But its okay, better late than never :D. Demi menghemat energi (BBM), kami bertiga hanya menggunakan formasi dua motor saja, dengan aku sebagai pihak yang dibonceng.

Seperti yang diduga, pagi yang cerah itu mendadak menjadi siang yang cukup kelabu. Gumpalan awan-awan gelap berjejal, berarak memenuhi langit-langit kota pahlawan. Kala itu kami sudah berada di mulut jembatan Suramadu. Karena motor sudah digeber, vitamin pun sudah ditenggak agar tidak teler, so tidak ada kata jiper, perjalanan pun harus jalan terus. Lagian kalau memang jembatan dianggap tidak aman untuk dilalui karena kondisi cuaca dan angin, maka jembatan akan ditutup.


Setelah membayar ongkos tol sebesar 3000 rupiah, kami pun dipersilahkan untuk melewati jembatan. Ini adalah kesempatan keempatku melewati jembatan sepanjang hampir 5 kilo ini, tapi aku masih merasakan getar-getar rasa yang sama kala melintas jembatan ini untuk pertama kalinya sekitar tiga tahunan yang lalu. Kebanggaan dan kekaguman bahwa bangsa ini ternyata sanggup untuk membuat sebuah maha karya yang sangat luar biasa ini.

Aku meminta Aris yang kala itu memboncengku, untuk tidak menggerakkan roda-roda motornya terlalu cepat. (Tapi juga tidak terlalu lambat karena ada batas kecepatan minimal yang harus dipenuhi). Aku ingin mengabadikan kegagahan dan keanggunan si suramadu untuk kukabarkan pada dunia.

Hanya dengan waktu tempuh kurang dari 5 menit, sampailah kami di penghujung jembatan. Yap, welcome to Madura Island. Dua buah pulau besar yang berdekatan itu kini terasa sudah tersambung.

Sesampainya di pulau madura, kami disambut dengan toko-toko oleh-oleh yang berjajar di sepanjang jalan. Karena memang tidak berniat membeli oleh-oleh, kami pun tidak menghampiri satu toko pun dan langsung lanjut perjalanan. Jalanan selepas jembatan suramadu ini begitu besar dan mulus. Tapi di kiri kanan jalan belum banyak bangunan ataupun gedung yang berdiri. Sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah sawah dan padang rumput yang menghijau. Di satu sisi, ini bagus, karena Madura masih mempertahankan tanah persawahannya. Suatu hari nanti, pulau ini mungkin saja bukan hanya penghasil garam, tapi juga lumbung padi nasional. Tapi disisi lain, tidak adanya gedung atau bangunan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di pulau madura ini belum terlalu tinggi, padahal jembatan suramadu sudah beroperasi lebih dari tiga tahunan.

Lepas 5 menitan dari jembatan Suramadu, kami bertemu pertigaan. Dari google maps di ponselku yang menjadi panduan arah kami, arah belok ke kiri (ke barat) adalah jalan by pass menuju Kamal dan Socah. Sedangkan jika lurus ke utara, maka jalanan akan menuju ke arah kota Bangkalan. Di titik inilah, segala cerita seru road trip madura dimulai. Awalnya, dititik ini, kami membelokkan motor ke kiri, sesuai petunjuk dari peta, sebagai jalan tercepat menuju mercusuar. Tapi sebuah ide brilian muncul dari Aris. Ide yang memang sangat serasi dengan bodinya (piss den aris :D). Baru beberapa meter berjalan ke arah kiri, dia mengusulkan untuk mengambil jalur yang lurus.

Bagaimana kalau kita lurus ke arah Bangkalan saja dulu, cak. Kita mampir makan di bebek sinjai dulu-lah. Sudah jauh-jauh kita ke Madura, rasanya tak pas kalau tak mampir ke sana, usulnya. Aku dan adit pun langsung sepakat!!

Perjalanan pun berlanjut. Jalanan yang mulus dan sepi membuat para biker mendadak menjadi pembalap. Aku melihat langit tampak semakin gelap di sisi timur, tapi sebaliknya, di sisi barat, suasana tampak sangat cerah. Alhamdulillah, karena kami memang akan menuju ke barat. Sepuluh menit perjalanan, kami akhirnya tiba di persimpangan jalan dengan pilihan kekiri menuju ke kota Bangkalan, sedangkan jike kekanan akan menuju kota Sampang. Karena memang akan menuju kota Bangkalan, kami pun membelokkan motor ke kiri.

Sesaat setelah motor berbelok ke kiri, kami pun mulai menjumpai adanya kegiatan ekonomi disini, mulai kantor Perusahaan Listrik hingga rumah makan. Semakin mendekati kota Bangkalan, suasana di pinggir jalan semakin semarak dengan hadirnya toko-toko batik yang menjual batik khas Madura.


Satu, dua, tiga, empat toko terlewati, kami bertiga masih fokus pada tujuan semula, yakni rumah makan bebek sinjai. Toko kelima, keenam dan ketujuh, racun batik mulai menjalar. Tapi kami masih bertahan. Toko kedelapan, kesembilan, pertahanan mulai bobol. Dan pada akhirnya kami tidak kuasa untuk menolak lambaian kain batik madura yang luar biasa elok itu. Kami pun mampir ke salah satu toko.


Didalam toko racun ternyata semakin menjalar. Kini dihadapan mata kami, terhampar aneka kain batik dengan warna-warna cerah yang merupakan kekhasan dari batik madura. Bingung melanda. Semua tampak sangat cantik. Akhirnya terpilihlah satu. Tanya harga ke yang jual.

Yang ini berapa cak?

Oh itu sekitar 500 ribu, jawabnya enteng.

*Pening* dan hanya bisa bergumam oohhhh tanpa berusaha untuk menawar.

Lalu pilih-pilih lagi, dan kemudian ketemu lagi satu yang bagus.

Nah, kalau ini berapa cak?

Wah, pilihan yang bagus mas. Saya kasih murah deh

Mendengar kata murah, hatipun riang. Berapa?

Satu juta

*Mendadak migren*

Kalau yang ini

Oh kalau itu agak tinggi mas harganya, dua juta

*Pingsan*

Akhirnya kami bertiga menyerah. Setelah siuman, kami minta dicarikan kain batik yang harganya terjangkau. Dan ditunjukkan oleh si mas deretan kain-kain yang berharga 125 ribu rupiah (Kenapa nggak dari tadi ya nanya harganya) yang ternyata juga masih tampak sangat bagus di mataku. Setelah mendapatkan kain yang cocok, negosiasi pun terjadi dengan gaya khas cowok.

Beli dua, dua ratus ya cak, jadi masing-masing seratus ribu tawar Aris. Rencananya memang yang ingin membeli batik hanya aku dan aris, karena ternyata Adit masih punya penawar racun anti batik. Negosiasi berjalan cukup alot sampai masnya penjualnya akhirnya setuju.

Baru saja deal terjadi, si Adit tiba-tiba nyeletuk, Kalau 250 ribu dapat tiga, gimane cak?. Aku dan Aris pun serta merta menoleh ke arah dia bebarengan, memastikan bahwa yang tadi nyeletuk memang dia. Anehnya, kali ini negosiasi berjalan sangat mudah. Si mas langsung deal dengan penawaran Adit. Jadi pada akhirnya, kami mendapatkan batik masing-masing dengan harga sekitar 83.500 rupiah per lembar dari harga penwaran awal 125 ribu rupiah. Lumayan banget. Sebuah prestasi menawar yang luar biasa bagi kaum lelaki yang tidak pandai menawar semacam kami.

Batik didapat, perjalanan pun dilanjutkan. Sayangnya, di tengah jalan, ada sedikit kendala menghadang. Ban motor Aris bocor. Kami pun menepi dan mencari tukang tambal ban yang untungnya tidak jauh dari lokasi. Sambil menunggu ban ditambal, kami pun beristirahat sejenak.

Dua puluh menit berlalu, motor Aris pun sudah siap. Perjalanan pun berlanjut. Tak berapa lama, kami sudah sampai di rumah makan bebek sinjai. Rumah makan bebek ini memang tidak pernah sepi. Apalagi sejak salah satu ahli kuliner nusantara yang terkenal dengan kata maknyus-nya, Pak Bondan Winarno berkunjung ke rumah makan ini. Dan memang, bebek gorengnya luar biasa maknyus. Dagingnya sangat empuk dan renyah. Yang khas dari rumah makan ini adalah sambal pencitnya alias sambal mangga. Rasanya bikin nagih.


Perut kenyang, hatipun damai. Perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju target utama dari road trip ini, yakni mercusuar sembilangan di Socah. Sebelumnya, kami mampir dulu di salah satu Masjid untuk menunaikan Sholat Dhuhur.

Perjalanan menuju mercusuar ternyata tidak mudah. Dari pusat kecamatan Socah, mercusuar ini masih berjarak sekitar 7 km dengan medan yang sangat luar biasa menantang. Awalnya memang kami masih melewati jalanan aspal. Tapi sekitar 4 km dari mercusuar, aspal di jalanan mendadak hilang. Yang tersisa hanyalah jalanan yang masih berupa tanah. Perjalanan menjadi semakin seru karena kondisi tanah lagi becek karena sisa hujan yang mengguyur kawasan ini sehari sebelumnya.


Dengan perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian, kami bertiga menyusuri jalanan itu. Makin lama jalan ditempuh, makin parah jalan yang kami lewati. Kami pun semakin desperate karena hingga lima belas menit berlalu, mercusuar itu belum nampak juga. Padahal dengan bentuknya yang menjulang tinggi, harusnya mercusuar itu sudah nampak dari jauh. Keraguan pun mulai muncul. Tapi ketika si Aris, yang dengan kemampuan mata supernya, mampu melihat bangunan berwarna putih yang tinggi menjulang itu dari kejauhan, kami pun bernafas lega. Akhirnya kami sampai juga.


Mercusuar Sembilangan, sebuah mercusuar peninggalan masa kolonial Belanda yang dibangun oleh Z.M WILLEM III sejak tahun 1879. Informasi ini bisa dibaca dari prasasti yang tertempel di dinding mercusuar. Untuk bisa masuk ke bangunan yang keseluruhannya terbuat dari baja ini, kita diminta membayar uang 3000 rupiah.


Memasuki interior mercusuar, membuatku teringat memori kala bertandang ke mercusuar cikoneng, anyer dua tahun yang lalu. Setelah mengambil nafas panjang demi menguatkan diri, kami pun mulai meniti anak tangga untuk menuju puncak mercusuar. Supaya tidak terasa lelah dan rileks, setiap satu tingkat, kami sempatkan untuk beristirahat sembari mengambil beberapa foto yang menarik. Hingga akhirnya puncak mercusuar setinggi 60 m itupun berhasil kami capai.

Dan kini sebuah pemandangan yang stunning dari selat madura tersaji didepan kami. Tanpa membuang waktu, kami bergantian bernarsis ria di teras puncak mercusuar. Awalnya semua terasa sangat ngeri. Kaki-kaki kami tanpa terasa bergemetar sendiri. Meski tampak kokoh, mercusuar ini sudah berusia lebih dari 130 tahun. Tapi lama kelamaan, perasaan ngeri itupun hilang sendiri. Dan kami bisa dengan rileks mengekplore berbagai sudut mercusuar. Setelah puas mengambil gambar dari berbagai angle, kami pun bersantai bersama di teras mercusuar. Duduk-duduk, menikmati semilir angin sambil berbincang tentang banyak hal.


Setelah sekitar satu jam berada di puncak mercusuar, kami pun akhirnya memutuskan untuk turun. Sebelum pulang, aku mengambil sekali lagi frame si mercusuar untuk kenang-kenangan.

Dari mercusuar, kami menggeber motor kembali menuju pelabuhan kamal. Untuk kepulangan ke Surabaya ini, kami menggunakan moda transportasi feri penyeberangan dari ASDP. Begitu kapal feri berlabuh kembali di dermaga ujung, Surabaya, maka berakhirlah road trip sehari di Madura ini. Total jarak yang kami tempuh dalam perjalanan ini sekitar 85 km. Sebuah jarak yang cukup membuat pinggang, punggung dan pantatku terasa kaku, karena memang sudah lama tidak berkendara jauh. Meski lelah, tapi kami sangat menikmati perjalanan ini.

d2410cd16c00f3e8103fc6b98ea48942_peta-tour-madura-blog

Road trip kali ini menginspirasi kami untuk kembali melakukan kegiatan serupa di tahun 2013 ini dengan salah satu targetnya adalah Pulau Sempu di Malang Selatan yang telah menjadi salah satu destinasi impianku sejak lama. Semoga.


TAGS Budaya Wisata Kuliner JawaTimur


-

Author

Follow Me