The Hobbit The Battle of the Five Armies

22 Dec 2014

Hari Rabu, 17 Desember 2014, salah satu film yang kutunggu-tunggu selama tahun 2014, yaitu The Hobbit The Battle of the Five Armies resmi dimulai penayangannya di bioskop-bioskop di seluruh dunia. Dengan releasenya film ketiga dari trilogi The Hobbit ini, berarti berakhir sudah perjalanan panjang selama 13 tahun saga middle-earth yang diadaptasi dari novel karya JRR Tolkien.

168adf3901901f2f5f0ea3987f3874ce_the-hobbit-3-poster

Movie review kali ini agak bersifat spoiler, jadi bagi yang belum menonton dan tidak ingin terganggu kenikmatan menontonnya, mungkin bisa tidak membaca dulu postingan ini.

Adegan film The Hobbit The Battle of the Five Armies langsung dibuka dengan sebuah klimaks nan menegangkan. Andai kata diibaratkan senam aerobik, maka penonton langsung dibawa menuju gerakan inti, tanpa pemanasan terlebih dahulu. Jika pembaca sudah menonton The Hobbit seri sebelumnya, maka pasti sudah mempersiapkan diri dengan hal ini, karena adegan ini memang ditunggu-tunggu sejak setahun yang lalu.

Pada The Desolation of Smaug, banyak penonton geregetan dengan sang sutradara The Hobbit, yakni Peter Jackson, karena memutuskan untuk mengakhiri film, ketika penonton tengah akan menuju klimaks.

Bagiku, mengawali film langsung dengan klimaks adalah hal yang pertama kali dilakukan oleh seorang Peter Jackson selama membuat serial saga middle-earth ini. Di lima film terdahulunya, Peter selalu mengawali film dengan sebuah kisah yang sifatnya alur mundur, yang menjadi pondasi cerita.

Setelah adegan klimaks yang berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit usai, maka tempo film mulai melambat. Thorin Oakenshield yang merupakan sosok sentral dalam dua film The Hobbit sebelumnya, aku menyebutnya sebagai Aragorn-nya The Hobbit, mendadak menjadi tokoh yang sangat menyebalkan.

Gunungan emas yang selama ini tersimpan di Erebor (kerajaan Kurcaci) telah membutakan mata hatinya dan mengubahnya menjadi sosok yang serakah. Bahkan Thorin sampai tega meragukan kesetiaan rekan-rekan kurcacinya, karena hingga beberapa hari sejak Erebor berhasil direbut, The Arkenston, permata paling bernilai diantara tumpukan harta Erebor, belum ditemukan. Dia menuduh salah satu dari rekannya itu telah mengkhianatinya dengan mencuri The Arkenston. Hal yang membuat Balin dan rekan-rekan kurcacinya menjadi kecewa terhadapnya.

Janji Thorin yang akan membagikan beberapa emasnya untuk bangsa manusia, yang telah berhasil membantunya merebut kembali Erebor, pun hanya tinggal janji. Pun setali tiga uang dengan janjinya pada peri hutan Mirkwood. Akibatnya, perang antara Manusia yang beraliansi dengan Peri melawan Kurcaci pun tampaknya sudah tidak dapat dihindarkan lagi.

Di saat genting inilah, seorang Bilbo Baggins menjalankan perannya. Dengan kecerdikannya dia berusaha untuk menghindarkan perang antara Kurcaci, Manusia dan Peri. Bilbo menyadari bahwa ketiga bangsa itu adalah bangsa yang baik dan tidak sepatutnya saling membunuh. Sebuah peran yang membuat Gandalf The Grey, sang penyihir, sangat terkesan pada Bilbo.

Dari sini lah, aku mulai memahami, mengapa di trilogi The Lord Of The Ring, Gandalf sangat percaya bahwa Frodo Baggins, yang notabene adalah seorang Hobbit akan mempu menjalani tugas sebagai pembawa cincin sauron. Padahal perjalanan menuju Mordor dipenuhi dengan banyak sekali rintangan dan bahaya. Ini disebabkan seorang Hobbit adalah mahkluk yang lugu, yang tidak terlalu berambisi pada harta ataupun kekuasaan. Hal yang banyak terlintas di pikiran Hobbit hanyalah rumah, ladang, makanan dan minuman. Akibatnya, cincin sauron pun menjadi tidak terlalu berpengaruh pada Hobbit, kecuali membuat sang pemegang cincin menjadi awet muda dan berumur panjang serta ingin terus-menerus memiliki cincin tersebut, tetapi tanpa memiliki keinginan untuk menjadi penguasa dunia.

Usaha Bilbo untuk mendamaikan aliansi manusia, peri dengan kurcaci nyaris sia-sia, karena perang hampir terjadi. Tapi kemudian datanglah pasukan Orcs dan Wargs yang berniat menguasai Erebor dan menjadikannya sebagai benteng. Karena diantara Manusia, Peri dan Kurcaci, semuanya membenci dan memusuhi Orcs dan Wargs, maka terjalinlah secara sendirinya aliansi antara Manusia, Peri dan Kurcaci. Perang besar antara aliansi Manusia Peri Kurcaci melawan Orcs Wargs pun tidak terhindarkan lagi. Perang antara lima pasukan. The Battle of The Five Armies.

Thorin yang awalnya masih terpengaruh oleh kilauan emas-emasnya, dan hanya menonton pertempuran itu dari dalam balik gerbang Erebor, akhirnya tersadar akan kesalahannya. Dia dan rekan-rekan kurcacinya pun turun ke medan peperangan di saat-saat terakhir peperangan. Pada akhirnya, dia terlibat pertempuran duel melawan Azog sang pemimpin bangsa Orcs dan Wargs.

Pertempuran di Lonely Mountain, tepat di depan gerbang Erebor ini benar-benar pertempuran epic yang maha dahsyat. Dengan bantuan spesial effect yang sempurna, pertempuran berjalan dengan sangat seru dan klasik. Bahkan aku sendiri sempat merasa bahwa pertempuran ini lebih dahsyat daripada pertempuran di Minas Tirith Gondor, pada The Lord Of The Ring The Return Of The King. Good Job Mister Jackson!!

Selain membangun adegan pertempuran yang hebat, di sisi lain, Peter Jackson juga mengembangkan plot di luar buku The Hobbit, agar ada benang merah antara cerita The Hobbit dan The Lord Of The Rings. Salah satunya adalah adanya mahkluk bernama Necromancer yang tak lain adalah Sauron. Juga sudah dimunculkannya tokoh Legolas, yang sebenarnya tidak pernah disebut di buku The Hobbit.

Selain itu dibangun pula kisah cinta antara Tauriel dan Kili sebagai bumbu penyedap dalam film. Cuman memang plot kisah cinta yang dibangun agak terkesan janggal karena melibatkan kisah cinta antara Kurcaci dan Peri.

Ketika akhir film telah menjelang, Peter Jackson melakukan sesuatu yang hampir sama dengan yang dia lakukan ketika membuat ending The Lord Of The Ring The Return Of The King, yaitu membuat ending yang cukup panjang, yang terdiri dari beberapa adegan. Meski mungkin bagi beberapa orang, hal itu membosankan, tapi, bagiku, itu bukan sebuah masalah. Justru aku makin senang, karena kupikir penonton layak diganjar dengan ending yang cukup panjang agar sedikit rileks, setelah selama lebih dari dua jam dibuat tegang dengan adegan demi adegan yang ada.

Terakhir, seperti di lima film terdahulu, ada banyak quote bertebaran di The Hobbit The Battle of the Five Armies. Salah satu quote yang menurutku monumental terdapat di penghujung film, di sebuah dialog perpisahan antara Thorin dengan Bilbo.

“If more of us valued home above gold, it would be a merrier world.” Thorin II Oakenshield, son of Thrain, son of Thror, King under the Mountain.

Finally, selamat menonton ya!!! Selamat menapaki perjalanan terakhir dunia middle-earth.


TAGS Film


-

Author

Follow Me