Mencoba (Lebih) Serius Dengan Instagram

11 Mar 2015

Jika sebuah pertanyaan Apakah aplikasi berbagi foto favoritmu dilontarkan kepada setiap orang pengguna internet aktif saat ini, maka mungkin lebih dari 90 % akan menjawab Instagram. Yap Instagram. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang kini dimiliki oleh Facebook. Pembuat awal Instagram adalah Kevin Systrom and Mike Krieger. Keduanya meluncurkan instagram di bulan Oktober 2010. Fokus instagram adalah berbagi foto di aplikasi berbasis mobile, sehingga hanya bisa digunakan di mobile device.

1045820bb1039d53b48c899480f140ad_instagram

Di awal kehadirannya, Instagram hanya bisa terinstall di Sistem Operasi iOS, sehingga hanya pengguna Apple product seperti Iphone ataupun Ipad yang bisa memanfaatkannya. Lalu, demi ekspansi pasar, instagram akhirnya hadir untuk Sistem Operasi Android dan menyusul kemudian Windows Phone.

97248caca283e0c2334e7ffb8660d885_182-foto-lebih-serius-di-instagram-rev

Sejak kehadirannya sekitar hampir lima tahunan yang lalu, instagram telah menjadi fenomena di jagat maya dengan menjadi aplikasi berbagi foto paling populer. Kehadirannya langsung menggeser posisi beberapa aplikasi berbagi foto lain yang sudah cukup besar seperti Flickr, Picasa ataupun Photobucket. Dengan popularitas yang makin menanjak, akhirnya di tahun 2012, tepatnya di bulan April, Facebook memutuskan untuk membeli instagram dengan nilai sekitar 1 milliar dollar amerika.

Aku sendiri, mulai menggunakan instagram sejak pertengahan tahun 2012, tepatnya sejak instagram hadir di Android. Hanya saja aku memanfaatkannya untuk sekedar iseng saja. Sebagian besar foto yang ku upload adalah foto yang kuambil dengan kamera ponselku yang kebetulan kualitas hasil fotonya tidak cukup baik. Aku sendiri lebih serius bermain di flickr, karena selain sebagai etalase hasil foto, aku juga memanfaatkan flickr untuk menghemat space blog. Resolusi dan kualitas foto yang disediakan di flickr juga bebas, tergantung ukuran dan kualitas foto yang kita upload. Berbeda dengan instagram, dimana gambar yang kita upload haruslah berukuran persegi. Jika memang gambar kita belum berukuran persegi, maka kita harus melakukan cropping. Kualitas gambar pun diturunkan ketika gambar sudah terupload.

Karena hal tersebut, saat itu aku merasa bahwa, instagram mungkin hanyalah aplikasi untuk iseng saja. Karena itulah, aku juga menggunakannya hanya untuk iseng saja.

Tetapi ternyata aku salah. Di pertengahan tahun 2014, ketika tengah asyik berselancar di dunia maya, tanpa sengaja aku menemukan artikel yang menulis akun instagram fotografer-fotografer professional yang cukup ternama di dunia, mulai dari fotografer National Geographic hingga fotografer Gedung Putih. Terus terang, awalnya aku cukup terkejut dengan artikel ini. Instagram yang selama ini kuremehkan, ternyata dimanfaatkan dengan serius oleh para fotografer professional. Ketika aku berkunjung gallery mereka di Instagram, aku seperti melihat sebuah pameran foto-foto artistik yang sangat indah pada sebuah layar ponsel. Begitu aku teringat bagaimana bentuk galleryku, aku jadi iri melihat gallery mereka.

Kemudian aku membaca beberapa artikel, sampai pada akhirnya aku menemukan beberapa kesimpulan, mengapa para professional itu tertarik untuk bermain serius di instagram.

Pertama, dengan instagram, mereka jadi lebih bisa menunjukkan karya mereka ke khalayak yang lebih luas, tidak terbatas hanya pada kantor mereka, rekan-rekan fotografer, media massa, media periklanan ataupun pihak-pihak yang selama ini memanfaatkan foto mereka.

Kedua, resolusi dan ukuran file yang lebih kecil membuat waktu loading file menjadi lebih cepat, sehingga para follower bisa melihat hasil karya foto mereka dengan lebih cepat dan mudah. Resolusi yang kecil juga membuat mereka tidak perlu khawatir karya mereka dicuri.

Ketiga dengan sifatnya yang lebih mirip sebagai media sosial, daripada sebagai tempat berbagi foto, instagram bisa juga dimanfaatkan sebagai akun buzzer, sebagaimana twitter, sehingga ketika follower mereka mencapai angka yang besar hingga puluhan ribu, ratusan ribu atau bahkan jutaan, maka akan banyak pengiklan yang datang. Mereka pun bisa mendapatkan pendapatan tambahan diluar memotret.

Sejak saat itu, pandanganku pada instagram mulai berubah. Dari yang meremehkan menjadi kagum. Pantas saja, facebook sampai rela merogoh kocek sedalam itu untuk membeli instagram. Ternyata potensinya sangat besar.

Kekagumanku pada instagram makin bertambah ketika membaca sebuah artikel tentang munculnya talenta-talenta baru di dunia fotografer yang berawal dari Instagram. Berawal dari akun instagram, mereka berhasil menembus ketatnya persaingan di dunia fotografer.

Selain fotografer, banyak profesi lain yang terutama di bidang seni, yang juga memanfaatkan instagram, seperti fashion designer untuk memerkan karyanya, pelukis untuk menunjukkan hasil lukisannya ataupun koki untuk menunjukkan hasil masakannya. Instagram mungkin seperti layaknya youtube untuk para penyanyi pendatang baru ataupun para sutradara indie.

Dari berbagai informasi yang aku dapatkan ini, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba lebih serius bermain di instagram, sejak awal tahun 2015 ini. Niatnya tidak terlalu muluk, hanya ingin berbagi tentang keindahan bumi ke seluruh penjuru dunia, terutama, tentu saja, bumi nusantara tercinta ini. Mungkin saja kan, karena satu foto di gallery instagramku, beberapa turis akhirnya datang ke Indonesia, he he he.

Sebagian foto yang selama ini sudah terupload di akun instagramku terpaksa aku hapus karena aku memilih untuk tetap bertahan dengan akun ini dan menatanya ulang daripada membuat akun baru. Aku pun membongkar-bongkar stok foto lamaku untuk mulai di lakukan editing agar siap upload di instagram seperti memperbaiki horizon foto, memperkecil resolusi dan crop persegi. Sip lah.

Dan terakhir, seperti biasa, semoga konsisten uploadnya, amin. Jika rekan-rekan blogger bersedia, follow instagramku ya @suryahardhiyana, promosi, he he he.

Artikel ini republish dari suryahardhiyana.com.


TAGS Fotografi


-

Author

Follow Me