• 16

    Nov

    Trilogi Mercusuar Indonesia

    Dua bulan yang lalu, saat kaki, tenaga dan semangatku berhasil mengantarkanku, menggapai puncak mercusuar di pulau Lengkuas, kepulauan Belitung, anganku langsung terkenang akan kisah perjalananku ketika mengunjungi Anyer, tiga tahun yang lalu dan bertandang ke pulau Madura, hampir dua tahun yang lalu. Saat itu, aku mengalami perjalanan yang sangat mirip dengan apa yang aku lakukan di pulau Lengkuas, yaitu menaklukan mercusuar. Mercusuar di pulau Lengkuas, Anyer dan pulau Madura bisa dibilang mercusuar yang kembar identik. Desain bangunannya mirip, tingginya nyaris sama, bahan pembuatnya sama dan dicat dengan warna yang sama. Ini terjadi karena ketiganya memang dibangun di masa yang sama, yakni masa pendudukan kolonial Belanda di Indonesia. Tahun berdirinya pun berdekatan. Mercusuar Sem
  • 10

    Nov

    Menggapai Mahameru

    Kaki-kaki gontai berjalan beriringan di pekatnya malam. Gelap berpacu dengan dingin dan debu. Dua tiga langkah kaki maju diikuti satu langkah mundur. Nafas memburu terengah-engah. Paru-paru menjerit, meronta, mendamba oksigen yang kian menipis. Badan sudah tidak sanggup berdiri tegak. Tongkat menjadi tumpuan, menggantikan lutut yang sudah seperti mati rasa. Bahkan beberapa sudah ada yang ambruk dan musti berjalan merangkak. Kerongkongan terasa kering, tetapi persediaan air harus dihemat. Tetes demi tetes sangat berharga. Ditengah itu semua, fokus dan konsentrasi harus tetap terjaga. Meski mata terasa berat, meski badan sudah remuk redam. Sudah sekitar tiga jam yang lalu pos Arcopodo kami tinggalkan. Puncak masih menunggu nun jauh di atas sana sedang kiri kanan jurang menganga. Mahameru
  • 24

    Jan

    Dari Banyuwangi, Kembali ke Barat (Sebuah Epilog)

    ———- “Buah tangan terbaik dari suatu perjalanan adalah kisah-kisah yang menghangatkan” ———- Malam itu stasiun Kali Setail tampak ramai. Keheningan yang biasanya menggelayut di stasiun yang teretak di kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi ini mendadak berubah ketika enam buah mobil berjenis trooper memasuki halaman stasiun secara beriringan. Sesaat setelah mobil terparkir sempurna, keluarlah wajah-wajah sayu dari dalamnya. Sesekali mereka mengucek-ucek mata agar bisa sedikit lebih terbuka. Dengan langkah gontai, mereka berjalan menuju Stasiun. Sesampainya di peron, mereka langsung menghempaskan tubuh serta bawang bawaan mereka di kursi. Ruang tunggu stasiun yang hanya berkapasitas sekitar 40an tempat duduk itu pun langsung penuh. Jarum j
  • 19

    Jan

    Haidi, sang Maestro Biola Banyuwangi

    Pertunjukan Barong baru saja selesai dipentaskan. Sanggar Genjah Arum yang sebelumnya riuh dengan berbagai macam suara serta kilatan lampu flash dari kamera, menjadi sedikit tenang kembali. Para pemain Barong tengah beristirahat sejenak, bersiap untuk pertunjukan selanjutnya. Sedangkan para penonton kembali ke rutinitas semula. Ada yang meneruskan membuat artikel di Laptop, makan aneka gorengan yang sudah disediakan Sanggar, bermain ponsel ataupun melanjutkan diskusi tentang kopi bersama Pak Iwan. Aku sendiri masih terpaku di tempatku berdiri menyaksikan tari Barong tadi. Masih terngiang di kepalaku ternyata Tidak hanya Bali saja yang punya Barong, Banyuwangi juga. Tiba-tiba, dari keheningan itu, menyeruak sebuah melodi yang menggetarkan gendang telingaku. Alunan nada yang sangat merdu
  • 17

    Jan

    Menatap Senja (Tak) Sempurna di Pulau Merah

    Sore itu langit tampak mendung. Awan gelap berarak menggumpal-gumpal di ufuk barat. Angkasa menghitam. Hanya menyisakan sedikit saja ruang untuk warna lain berpendar. Wajarlah sebenarnya. Bulan ini memang bulan dimana musim penghujan datang. Bahkan katanya di musim ini curahnya paling tinggi. Januari. Orang sering memplesetkannya dengan hujan berhari-hari. Beberapa jam yang lalu pun hujan baru saja mengguyur daerah ini. Tapi saat ini sudah reda, tinggal menyisakan rintiknya saja. Dibawah senja kelabu, aku terduduk di bawah pohon. Entahlah pohon apa namanya, aku belum mengenal spesiesnya. Di sekitarku berserakan pasir berwarna kecokelatan, terbentang sejauh lebih dari 3 km. Di hadapanku laut terhampar. Ombaknya tampak riang. Mereka menari-nari dan bergulung-gulung hingga setinggi sekitar
  • 15

    Jan

    Teluk Hijau yang Menakjubkan

    Ekspresi apa yang akan kalian lakukan jika mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat. Berteriak, Tertawa, Melompat-lompat, Berlarian, atau malah menangis? Hari minggu, 12 Januari 2014 yang lalu, aku merasakan kebahagiaan itu. Dan yang aku lakukan adalah berteriak gak jelas lanjut kemudian menangis terharu dan bersujud. Bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan menyaksikan salah satu tempat terindah di muka bumi ini. Subhanallah. Namanya Teluk Hijau, atau teluk ijo kalau orang-orang lokal bilang. Kalau orang-orang bule menyebutnya Green Bay. Lokasinya berada di pesisir selatan pulau jawa, tepatnya di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, sekitar 90 km arah barat daya dari kota Banyuwangi, dan masuk dalam wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Melihat Teluk Hijau, mengingatkanku
  • 15

    Jan

    Menyaksikan Fajar di Ujung Timur Jawa

    Fajar pagi itu mungkin menjadi salah satu fajar yang terindah dalam hidupku. Semburat merah jingga kuning di langit timur yang berbaur menyatu membuka tabir pekatnya kegelapan yang sudah bersemayam selama hampir 12 jam di muka bumi, sungguh sulit untuk terlupakan dari memori otakku. Hari itu, Hari Minggu, 12 Januari 2014. Ketika itu jarum jam masih menunjukkan angka 4.30 pagi. Waktu Subuh sudah lewat setengah jam yang lalu. Hari yang masih dini. Langit masih tampak gelap. Jalanan pun tampak lengang. Hanya sedikit sekali mobil yang lalu lalang, salah satunya mobil yang kini tengah kutumpangi. Mobil berjenis trooper itu tampak sangat nyaman melaju di jalan raya yang masih sepi. Sesekali aku kucek mataku. Sebenarnya dia masih sangat berat untuk terbuka. Tapi mau bagaimana lagi, pagi ini m
  • 15

    Jan

    Kenikmatan Kopi Kemiren

    Secangkir cairan cokelat kehitaman tersaji di depanku. Tampak kabut tipis menari-nari dia atas permukaannya. Semerbak aroma harum serta merta menembus syarafku ketika beberapa helai dari kabut itu sampai ke pori-pori hidungku. Hmm, batinku. “Silahkan diminum, dan setelah itu ceritakan, apa yang kamu rasakan,” ujar seorang pria dihadapanku. “Terima kasih pak.” Semakin banyak helaian kabut yang hinggap ke hidungku, semakin liar keinginan syarafku untuk segera menikmati rasanya. Dengan kekuasaanya, dia perintahkan seluruh organ tubuhku untuk segera bekerja. Kopai Using Kemiren Kupegang gagang cangkir itu lalu kuangkat. Kudekatkan ke arah mulutku perlahan lahan. Semakin dekat, semakin terasa keharumannya. Namun bersamaan dengan itu semakin terasa pula hawa panas yang
  • 14

    Jan

    Singgah di Shaba Swagata Blambangan

    Shaba Swagata Blambangan, itulah nama pendopo Kabupaten Banyuwangi yang terletak di jantung kota Banyuwangi. Sebelum ke desa kemiren, aku dan rombongan dblogger menyempatkan singgah di sana untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Kemiren. Sayangnya, ketika berada disana kami tidak bisa bertemu dengan Bupati Banyuwangi, Bapak Abdullah Azwar Anas dikarenakan beliau ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Karena bupati tidak berada di tempat, maka kami langsung menuju halaman belakang pendopo. Suasana hijau langsung menyambut kedatangan kami. Karena merasa lelah, aku langsung meletakkan tas dan merebahkan diri di salah satu kursi yang terdapat di teras belakang pendopo. Teras yang sangat luas, mungkin hampir sama dengan ukuran rumahku, he he he. Di teras itu terdapat b
  • 14

    Jan

    Kalibaru, Antara Panci, Wajan hingga Keju dan Kopi

    Aku duduk terdiam di sebuah bangku bus yang empuk. Ku rebahkan dan pasrahkan seluruh badanku padanya. Kurasakan sedikit kekakuan di leher sisa perjalanan semalam tadi. Hoaem.. mulutku menguap lebar, mencoba mengambil dalam-dalam oksigen yang tersisa di udara. Refleks, aku kucek mataku yang masih terasa sangat berat untuk terbuka. Suasana di dalam bus cukup hening. Yang terdengar hanyalah raungan mesinnya yang menderu lirih menembus jalanan. Aku lempar pandangan ke sekitarku. Tampak sebagian besar dari para penumpang bus yang merupakan komunitas dblogger Suroboyo tengah asyik melanjutkan mimpinya yang terputus dini hari tadi. Baru sekitar dua jam yang lalu, kami semua harus segera menyudahi mimpi karena KA Mutiara Timur yang membawa kami sejak dari Surabaya sudah tiba di Banyuwangi. S
- Next

Author

Follow Me