• 10

    Nov

    Menggapai Mahameru

    Kaki-kaki gontai berjalan beriringan di pekatnya malam. Gelap berpacu dengan dingin dan debu. Dua tiga langkah kaki maju diikuti satu langkah mundur. Nafas memburu terengah-engah. Paru-paru menjerit, meronta, mendamba oksigen yang kian menipis. Badan sudah tidak sanggup berdiri tegak. Tongkat menjadi tumpuan, menggantikan lutut yang sudah seperti mati rasa. Bahkan beberapa sudah ada yang ambruk dan musti berjalan merangkak. Kerongkongan terasa kering, tetapi persediaan air harus dihemat. Tetes demi tetes sangat berharga. Ditengah itu semua, fokus dan konsentrasi harus tetap terjaga. Meski mata terasa berat, meski badan sudah remuk redam. Sudah sekitar tiga jam yang lalu pos Arcopodo kami tinggalkan. Puncak masih menunggu nun jauh di atas sana sedang kiri kanan jurang menganga. Mahameru
  • 11

    Jan

    Ayo ke Banyuwangi, The Sunrise Of Java

    Mungkin ini pertama kalinya aku membuat judul postingan berupa ajakan dan cenderung provokatif. Saat tulisan ini dibuat dan diposting, aku memang tengah berada di Banyuwangi. Tepatnya di Sanggar Genjah Arum, Kemiren Glagah Banyuwangi. Disini aku dan empat belas rekan blogger dari komunitas dblogger Suroboyo mendapatkan undangan khusus dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin oleh Bapak Abdullah Azwar Anas untuk menjelajah jengkal demi jengkal tanah di ujung timur Jawa ini bertajuk Dblogger Plesir Nang Banyuwangi. Undangan untuk mengunjungi kabupaten di ujung paling timur pulau jawa ini benar-benar datang di saat yang tepat, ketika aku tengah galau dengan keputusan apakah aku memutuskan untuk jadi berangkat ke Malaysia Singapura atau tidak. Tiket promo sudah ditangan sejak 6
  • 9

    Oct

    Temanggung - Wonosobo, Switzerland Van Java - Tur de Jateng 2013 (3)

    Perjalanan kami telah memasuki kota Temanggung setelah lepas dari Magelang. Dua buah gunung langsung menyambut kedatangan kami dengan kegagahan dan keelokannya. Sindoro Sumbing, nama dua buah gunung tersebut. Setelah menderu dengan cukup santai, karena jalananan yang relatif datar serta macet di kota Magelang, kami memasuki kembali trek yang berkelok-kelok. Kami beruntung kabut tidak terlalu pekat di kota Temanggung saat itu. Dari dalam kaca mobil kami bisa melihat bagaimana wujud dari Sang Gunung yang tinggi menjulang di tengah langit yang membiru dengan gumpalan kapas memenuhi bagian puncaknya. Di kaki gunung, tampak hamparan hijau bagaikan untaian permadani zamrud. Di antara hijaunya pepohonan terlihat rumah-rumah penduduk yang berdiri berhimpitan. Ingin rasanya aku meminta mobil be
  • 6

    Oct

    Berkelok-kelok diantara Merapi dan Merbabu - Tur de Jateng 2013 (2)

    New Selo, sebuah tulisan besar terbaca oleh mataku. Tulisan bercat putih kusam itu terpajang di atas deretan kedai yang menjual aneka makanan dan minuman ringan. Oke guys, check point kedua kita. Gardu Pandang New Selo, ujar Hikma sesaat setelah memarkir mobilnya dengan sempurna. Tanpa di komando lagi, aku dan para penumpang mobil lainnya langsung melesat keluar. Hawa sejuk langsung menyeruak begitu kepalaku menyembul dari dalam mobil. Hmm. Aku hirup dalam-dalam oksigen yang tersedia itu dan kupersilahkan mereka memenuhi rongga paru-paruku. Rasanya sangat segar dan menenangkan. *Fiuh* Masih terngiang ketegangan yang kami alami beberapa menit yang lalu. Lepas dari kota Solo, memasuki kabupaten Boyolali, jalanan yang tadinya lurus lurus saja, berubah menjadi kelokan-kelokan tajam dengan t
  • 20

    Jun

    Seorang Porter Bernama Hartono

    Mas, tunggu!!, panggilku memecah kesunyian sore dengan nafas yang tersengal. Posisiku sudah setengah merangkak. Tanganku berpegang erat pada sebuah batang pohon. Peluh membasahi wajah, tubuh hingga kakiku. Seseorang yang berjarak sekitar 5 meter di depanku menghentikan langkahnya, seraya kemudian memalingkan wajahnya. Tubuhnya kurus. Rambutnya hitam pendek. Kumisnya tipis menghiasi mukanya. Sebuah kacamata membingkai sepasang matanya. Dengan ringan dia melangkah ke arahku. Wajahnya tampak tenang dengan nafas yang stabil, seolah tak merasakan kelelahan. Padahal di bahunya terpanggul ransel seberat 20 kg. Aku sendiri hanya membawa beban ransel sekitar 12 kg. Istirahat dulu ya mas, ajakku padanya. Tanpa menjawab, dia mengambil posisi duduk dengan ransel masih tertambat dipunggungnya. Dib
  • 18

    Jun

    Keajaiban pagi Ranu Kumbolo

    Mataku mendadak terbuka. Kurasakan semilir belaian lembut menyentuh wajahku. Membawa serasa hawa yang sudah lama tidak pernah kujumpa. Aku ingin bergerak. Tapi tak bisa. Aku terbujur beku. Tak ada lagi ruang kosong. Kugerakkan kepalaku perlahan-lahan. Aku pandang tubuhku sendiri. Semuanya terbungkus rapat. Jaket, kantung tidur, kaus tangan, topi kupluk hingga kaus kaki. Tapi tampaknya itu semua belum cukup. Tubuhku masih menggigil. Jari tangan terasa kaku. Samar-samar lalu kuamati sekelilingku. Sebuah ruang sempit berbentuk seperti piramida dari kain memenuhi garis pandang. Ruangan itu tidak gelap, bahkan cukup terang. Sepercik sinar yang menyala dari lampu senter menjadi lenteranya. Kuperjap-perjap mata untuk sedikit menghilangkan samar itu. Ah, ternyata sebuah tenda, batinku. Perlaha
  • 10

    Jun

    Berjumpa Ranu Kumbolo, Sang Danau Impian

    Orang bilang tanah kita tanah surga Sepenggal bait dari lagu berjudul Kolam Susu milik grup legendaris Koes Plus membuka postingan kali ini. Seuntai kalimat yang sangat pas menggambarkan keindahan negeri kita, Indonesia. Surga dunia, heaven of earth, begitulah kata para wisatawan mancanegara, berceceran di wilayah zamrud khatulistiwa ini, mulai dari sabang sampai merauke. Dan salah satu surga itu bernama Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di kaki gunung semeru. Berada pada ketinggian 2400 mdpl (meter diatas permukaan laut), Ranu Kumbolo menyajikan panorama yang mempesona siapa saja yang melihatnya. Beberapa tahun silam, Ranu Kumbolo adalah salah satu surga tersembunyi di dunia. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Dan kalaupun tahu, hanya segilintar saja yan
  • 14

    Aug

    Terpukau di Danau Linow, Tomohon

    Kala berkunjung ke Sulawesi Utara bulan Juni 2012 yang lalu, aku dibuat terpukau oleh sebuah danau vulkanik seluas 34 hektar yang berlokasi di kota Tomohon. Sebuah Danau yang sangat indah dengan warna airnya yang bisa berubah-ubah. Danau Linow namanya. Keindahan danau ini sudah sangat terkenal di seantero kota Manado dan Tomohon, jadinya meski tengah bertugas, aku menyempatkan diri untuk berkunjung kesana, sekedar turut mencicipi kecantikannya. Kebetulan pula, tugasku memang berada di daerah Lahendong yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari lokasi danau linow. Cara terbaik (dan tercepat) untuk menuju Danau Linow dari kota Manado tentu saja dengan menyewa mobil atau taksi. Kalau dihitung dari Bandara Sam Ratulangi, Manado, perjalanan akan memakan waktu sekitar satu jam. Bagi yan
  • 26

    Oct

    Mengunjungi Genting Highland dan Petronas Twin Tower

    Setiap orang pasti butuh berlibur. Terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan dengan tingkat kesibukan yang luar biasa tinggi. Menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuknya kehidupan kota yang jenuh pastinya sangat diperlukan untuk mengembalikan kembali kesegaran otak serta semangat. Untuk itulah, banyak kawasan wisata tumbuh tidak jauh dari perkotaan. Biasanya kawasan-kawasan tersebut berkembang di daerah dataran tinggi, karena udara di dataran tinggi relatif sejuk dan segar. Untuk Jakarta, kawasan puncak adalah tujuan wisata utama. Sedangkan kota Medan punya Berastagi. Dan bagi warga Surabaya, Malang adalah tujuan jalan-jalan paling popular. Ini ternyata tidak hanya di Indonesia. Malaysia pun mempunyai kawasan-kawasan seperti ini. Salah satunya adalah Genting Highland yang letaknya
  • 26

    Jul

    Menjelajahi belantara Sumatera (Sumatera Utara Day 2)

    Sabtu (16 Juli 2011) perjalanan menjelajahi belantara Sumatera Utara berlanjut. Ternyata cuaca hari ini masih tetap mendung. Tampaknya efek dari kebakaran hutan Riau ini menyebar ke seluruh pulau Sumatera. Tapi cuaca itu tidak menyurutkan langkahku untuk melanjutkan perjalanan travelling di belantara Sumatera Utara ini. Perjalanan hari kedua ini dimulai tepat jam 8 pagi. Setelah check out, kami langsung diantar Bang Ronal menuju pelabuhan Ajibata. Dari sini kami naik fery menuju Tomok di pulau samosir. Lama perjalanan Ajibata Tomok ini ditempuh dalam waktu 45 menit. Suasana didalam Fery sangat ramai dan riuh dengan obrolan para penumpang yang kebanyakan adalah warga samosir ataupun parapat. Mereka berbicara dengan suara lantang khas batak. Hmm, rasanya seperti di negara antah berantah,
- Next

Author

Follow Me